Korupsi

Sebenernya saya heran bagaimana jalan pikiran orang yang mengambil kesimpulan bahwa kampus adalah tempat pencetak koruptor. Saya yakin tidak ada satu kampus pun yang bertujuan mendidik para mahasiswanya untuk korupsi. Jika ada lulusan perguruan tinggi yang melakukannya, bukan serta merta hasil didikan dari bangku kuliah. Lalu dari mana asalnya jika bukan dari kampus?

Jangan tanya pada rumput yang bergoyang. Juga pada angin yang berdesau atau pada rinai hujan. Itu hanya produk lamunan yang tidak pernah bisa menjawab. Silakan bertanya pada diri sendiri. Pada orang tua. Pada dosen-dosen di kampus, pada pak satpam penjaga kampus, pada mbak-mbak penjaga kantin, hansip di pos ronda, pak ustadz, pak rt, polisi, jaksa, syahrini atau marshanda bisa juga raisa. Boleh juga tanyakan pada tuhan atau bahkan hantu. Jawabannya pasti akan sama, bukan kami yang membuat mereka jadi koruptor.

Lingkungan pasti akan mempengaruhi. Bawaan dari lahir, itu mungkin sebagian kecil. Ada niat menyengaja melakukannya, boleh jadi. Namun semua tidak bisa dilakukan tanpa adanya kesempatan. Ada kesempatan tapi takut kalau ketauan nanti masuk penjara, malu, berdosa. Namun sayang beribu kali sayang, di negeri kita tercinta ini rasa takut, malu, berdosa atau semacamnya sudah tak bermakna.

Sama sekali tidak ada orang berpesan kepada Tuhan agar nanti dilahirkan sebagai koruptor. Biar keren. Kaya raya. Masuk penjara. Tenar. Seberapa iri pun kamu kepada koruptor, tak perlu mencoba melakukannya. Atau kesempatan akan membutakan segalanya.

Bagi yang berharap bahwa kampus lah tempat terbaik untuk menumbuhkan bakat-bakat korup, pulanglah!
Kampus tidak bertabur bunga.

Advertisements

Jendela

Rumah yang sehat punya jendela
Untuk sirkulasi udara
Tempat datangnya cahaya
Penghubung suara – suara
Jalan masuk orang – orang bayaran saja

Sssttt….

Tak usah banyak bicara
Cukup sisakan namanya.

Pulang

Aku melihat kamu tadi
Sepintas saja lalu hilang bersama keluh
Apa kamu marah?
Memendam dendam?

Ah, barangkali kamu bosan akan bujuk rayuku tiap pagi,
Tiap kali kamu memantaskan diri.
Tapi kenapa kamu belum pulang, dik?
Semburat kejinggaan di ufuk barat telah memucat

Ada bilah-bilah keresahan yang masih saja tersembunyi
Aku cema
Bukan karena apa-apa
Kepulanganmu sepertinya hanya akan menjadi angan yang terbawa desau angin
Bukan aku saja,
Ibuku juga risau
Bahkan beliau telah mewanti-wanti ini jauh-jauh hari
Memang aku tak becus menjagamu

Maaf…

Dik…

Segeralah pulang jika kamu memang masih sayang
Atau kamu akan senang jika aku dicincang?

Dik…Sodik….

Ingatlah caraku memanggilmu itu

Duhai ayam kesayanganku

Sawah

Aku sempat iri melihat teman – temanku. Mereka punya layang – layang yang bagus. Berwarna – warni, bergambar dan penuh pernak – pernik. Ketika terbang di udara terlihat di udara terlihat indah dan enak dipandang. Melayang dengan penuh percaya diri. Memang selalu ada harga yang dibayar untuk itu semua.

Layang – layangku beda. Aku membuatnya sendiri. Oh tidak, kami. Kami lah yang membuatnya bersama. Aku dan bapakku. Kami mengambil beberapa potongan bambu yang telah dihaluskan permukaannya dan mengikatnya dengan benang. Lalu kami balut dengan kertas koran bekas.

Ya jelek sekali. Dengan koran bekas. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika nanti disandingkan dengan layang – layang temanku yang bagus – bagus itu.

Kami pergi ke sawah. Bukan untuk bertani. Bercocok tanam. Sawah adalah tempat terbaik untuk menerbangkan layang – layang. Anginnya cukup kencang. Tentunya kami pilih lahan yang sudah dipanen. Lahan dimana hanya ada pangkal batang padi yang tersisa dan tertancap di tanah yang telah mengering. Aku memegangi layang – layang tersebut dan bapak menarik benangnya. Dengan ajaib layang – layangku terbang ke udara. AKu meraih benangnya dari bapak.

Diatas terlihat ada beberapa layang – layang lain milik temanku. Ya bagus – bagus sekali tentunya. Terlihat sekai perbedaannya mana yang mewah mana yang tidak.

Tapi sebentar. Hey! kenapa layanganku begitu tenang di atas sana? sementara yagn lain ada yang berputar – putar terombang – ambing angin. Sesekali miring ke satu arah, bahkan ada yang sampai terjun bebas ke sawah yang masih basah. Walaupun buatan sendiri tapi bisa menghasilkan layangan yang kualitas terbangnya tidak kalah bagus bahkan boleh dibilang mengalahkan layangan yang bagus tampilannya.

Bapakku bukan tukang layang – layang. Bisa saja dia membelikanku layang – layang yang bagus di toko deket rumah. Semua orang tua melakukannya. Namun tidak semua orang tua sempat berbagi tentang nilai apa yang terkandung dari sebuah proses yang kita jalanin dalam kehidupan. Bahkan sampai hal sepele seperti membuat layangan dan bagaimana menerbangkannya dengan baik.

Tidak semua orang tua sempat berbagi bagaimana caranya menjadi orang yang baik.

Taksu

Ada sebuah kalimat yang sangat akrab dengan kehidupan seorang anak yang tinggal jauh dari orang tuanya,

“aku kangen masakan ibu di rumah.”

Bisa juga begini:

“Masakan di sini gak seenak masakan ibu di rumah.”

Beberapa waktu dalam kehidupan seorang anak ada saat dimana ibu menjelma menjadi seorang dewa masak. Maaf dewi. Itu sudah melalui suatu pengamatan yang panjang. Seorang anak menganggap bahwasanya masakan ibunya lah yang paling enak.

Kita bukan saudara kandung. Ibu saya dan ibu anda berbeda dan sama sekali tak tertukar. Saya menganggap bahwa ibu saya lah yang masakannya paling enak. Begitu pula dengan anggapan anda. Masakan ibu anda lah yang paling lezat. Bahwa setiap makhluk bernama ibu mempunyai taksu. Masakannya enak.

Entah apa yang bisa membuat masakannya enak. Bumbunya, bahannya, cara masaknya, atau memang orangnya. Namun sekarang beberapa orang yang mendapat kehormatan untuk menyandang gelar ibu terancam keberadaan taksunya. Era globalisasi memang tak tedeng aling-aling. Tuntutan pekerjaan sedikit banyak membawa angin perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Okeh isu emansipasi mungkin bisa diabaikan sejenak. Seorang wanita bekerja bukan karena tuntutan emansipasi. Seorang ibu tidak sempat lagi mengurusi dapurnya. Urusan bagaimana menghasilkan nasi yang empuk dan sayur asem yang pas asemnya tak lagi sempat ia perhatikan.

“Ah, ada ‘si mbok’ inih.”

Cari uang yang banyak dan semua masalah selesai.

Maka tidak perlu heran jika ada seorang anak yang berkata:

” masakan bikinan ‘si mbok’ jauh lebih sedap”.

Karena bukan masakannya yang kurang enak, melainkan perhatiannya yang semakin acak. Karena bukan orangnya yang salah, melainkan semuanya yang sudah “campah”.

Botol

Warkop. Entah bagaimana sejarahnya dulu, tempat ini selalu akrab dengan kehidupan kawula muda kere. Di tengah cafe-cafe yang menjamur dimana-mana, tempat ini tetap ada di hati para penggemarnya. Menawarkan berjuta cerita.

Mie rebus barangkali salah satu yang menjadi candu bagi warkopers. Barang remeh mungkin, namun jauh di atas itu ada sebuah seni ketika memakannya. Seninya adalah ketika menuangkan saos botol warkop ke dalam mie. Ini tidak ada di tempat lain. Pasti tahu kan botol saos warkop yang terbuat dari kaca itu. Abaikan komposisi saosnya. Beberapa botol yang masih penuh mungkin masih mudah dikeluarkan isinya. Tetapi saat isinya sudah habis separuhnya disitulah seninya. Pernahkah berpikir kenapa bentuk botolnya harus seperti itu. Harus dibalik dahulu dengan mulut botol menghadap ke bawah. Kemudian diguncang-guncangkan agar keluar saosnya. Ah tidak. Beberapa orang tidak berhasil melakukannya biar pun tangan sudah pegal. Ini lah seninya. Biar pun caranya sama namun hasil yang diberikan berbeda-beda.

Apakah harus dipaksa dahulu agar kita bisa berpikir dan merenung? Ketika dipaksa pun ada yang masih bebal.

Apakah harus dengan pikiran yang sama agar sebuah hasil bisa dicapai? Padahal belum tentu semua orang berpikir.

Nasionalisme

Banyak orang yang bilang bahwa nasionalisme itu “cinta Indonesia”. Ini salah, ada yang bilang demikian. Nasionalisme itu suatu paham yang mempercayai bahwa perbedaan dalam suatu negara arus dipersatukan. Kedua makna memang terlihat berbeda. Mana yang benar siapa tahu.

Berhentilah membuat definisi – definisi. Suatu bangsa tidak membuthkan definisi saja. Semenakjub apapun itu. Apa yang seseorang berikan pada bangsa jauh lebih penting ketimbang mereka – reka definisi. Sudah sepantasnya ungkapan terima kasih dinyatakan.

Banyak anggapan bahwa nasionalisme hanya retorika belaka. Biarkan. Tidak ada yang salah. Namun untuk orang – orang yang berpikir, nasionalisme akan menjadi pengingat bahwa tidak akan ada bangsa Indonesia melainkan karena perjuangan para pahlawan yang dulu begitu berkobar membakar semangat seluruh rakyat untuk menghasilkan satu kata MERDEKA.

Apa yang kita cintai di negeri ini benar – benar kita dapatkan. Yakinlah.

Cinta tanah airmu meski yang kau dapatkan tanah longsor dan air bah.

Rasakanlah tanah kelahiranmu, tanah tumpah darahmu. Sehingga kau dapat menghentikan tumpah

darah saudara – saudaramu.

Dalam nasionalisme ada kata nasi. Akan basi jika hanya diterlantarkan. Dan hanya akan jadi

santapan ayam – ayam di pekarangan.

Hujan

Pletak…pletak…pletak…

Suara hujan tidak lagi seperti lagu anak – anak. Batu – batu kerikil baru saja tumpah dari langit.Bersamaan. Deras.

Peruntungan kita bukan di hari ini, istriku. Berharaplah masih ada para pembenci hujan yang menaruh kepercayaan padaku esok. Menunda dan mengalihkan hujan akan menyenangkan. Kalau memang rejeki tak akan kemana.

Bukan begitu?

Kursi Goyang Sayang

Nenek suka sekali merajut
Duduk di atas kursi goyang
Riyet – riyet…
Sesekali beralih pandangan ke samping
Kearah kursi goyang serupa
Tak lagi bertuan dan diam

Apa kabar kamu disana sayang?
Adakah kau melihatku tak menangis lagi?
Sudah melihatku tabah?

Kedua kursi bergoyang
Riyet – riyet…
Nenek tersenyum

Ulang Tahun Merah Pernikahan

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kedua puluh. Sebuah prestasi yang
membanggakan di usia uang tak lagi muda Kami beranjak senja. Aku tua. Suamiku pun begitu. Dia
tidak selincah dulu saat berenang melesat meninggalkan para pesaingnya. Saat memperebutkan
gelar manusia tercepat di air.

Kini, dia nampak lebih kalem. Tenang. Damai.

Terapung di atas kolam renang yang airnya perlahan menjadi merah.

Dengan mata terpejam. Dan bau anyir macam ikan.

Itu kado kejutan untuknya…